Demi Menafkahi Keluarga, Bocah Ini Rela Kehilangan Masa Kecilnya Karena Harus Bekerja

Apakah anda pernah mengeluh akan hidup yang anda jalani ini? Apakah anda selalu iri terhadap orang lain yang hidup lebih bahagia dibandingkan dengan anda? Dan apakah anda selalu menuntut untuk sama seperti orang lain kepada kedua orang tua? Jika seperti itu maka mulai dari sekarang anda perlu membuka hati anda semua. Mengapa ? Ya karena perlu anda ketahui bahwa banyak di dunia ini orang yang hidup lebih menderita dibandingkan dengan kita. Untuk iri kepada orang lain rasanya itu adalah perasaan yang tidak sewajarnya kita miliki karena banyak sekali orang di luar sana yang tidak memiliki apa yang tidak kita miliki. Serta jika kita selalu menuntuk apapun kepada kedua orangtua kita, maka mulai dari sekarang hilangkan kebiasaan tersebut karena nyatanya tidak sedikit anak yang berjuang dan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan sendiri.

Perlu anda ingat semua, ketika masih kecil mungkin anda semua mendapatkan segala macam fasilitas terbaik yang diberikan oleh kedua orang tua. Apapun yang kita minta dengan secepatnya diberikan, tidak perlu memikirkan bagaimana susahya mencari makan dan uang.

Namun tahukah anda? Tidak semua anak yang seberuntung seperti itu. Seorang anak yang seharusnya menghabiskan masa kecilnya dengan kebahagiaan justru ada di antaranya yang dihabiskan untuk bekerja. Apa yang mereka lakukan tersebut tentunya bukanlah keinginan karena semua orang di dunia ini pastinya ingin hidup bahagia, namun apa yang dilakukan oleh anak-anak tersebut merupkan tuntutan demi untuk membiayai hidup dan memenuhi semua kebutuhan dirinya sendiri beserta keluarga.

Sameiullah

Nah, seperti apa yang dilakukan oleh bocah laki-laki yang akan kita bahas kisahnya di bawah ini. Dimana bocah laki-laki berusia 11 tahun ini harus rela mengorbankan masa kecil, waktu bermain dan pendidikannya untuk bekerja menjadi seorang penyemir sepatu. Dan yang paling memilukan lagi bocah tersebut merupakan tulang punggung keluarganya.

Berkeliling Setiap Hari Untuk Menawarkan Jasa Semir Sepatu

Bocah yang dimaksud yakni Sameiullah, bocah tersebut berasal dari Afganistan. Setiap hari bocah tersebut menawarkan jasa semir sepatu di daerah Karta-e-Sakhi, Afganistan, dan Kabul.

Setiap harinya Sameiullah berjalan sangat jauh dari rumahnya untuk menawarkan jasa semir sepatu. Pakaian yang digunakannya sangat lusuh atau bahkan sudah tidak layak pakai. Namun ia tidak pernah merasa malu pada orang atau anak-anak sebayanya, karena yang ada di dalam pikirannya hanyalah keluarganya saja. Dan terkadang ia menemukan seorang pelanggan di jalanan, dimana ia pun rela bersimpuh di jalanan kotor hanya untuk mendapatkan sepeser uang.

Tangan-tangan kecil yang seharunya memegang pensil di sekolah ia gunakan untuk menyemir sepatu, tangan-tangannya tersebut begitu apik menyemir sepatu pelanggannya dan menjadikannya mengkilap lagi seperti baru. Kemampuannya tersebut terlihat bahwa dirinya telah melakoni pekerjaan tersebut sejak lama. Jika orang lain mungkin merasa keberatan dan merasa jijik, tetapi ia tidak pernah merasakan hal itu sama sekali dan apa yang dilakukannya itu hanyalah demi keluarga tercintanya.

Meskipun Penghasilannya Tidak Seberepa, Tetapi Sameiullah Selalu Bersyukur

Sameiullah1Anak kedua dari delapan bersaudara ini bekerja setiap hari dari pagi mulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam dengan berjalan kaki menelusuri setiap jalan. Diketahui setiap hari penghasilannya hanyalah sekitar Rp 50.000, namun meskipun begitu pendapatannya tersebut tetap ia syukuri.

Terkadang Sameiullah tidak bekerja sendiri, dimana ia terkadang dibantu oleh sang adik. Kemisikinan yang menimpa hidup mereka membuat mereka labih memilih bekerja dibandingkan dengan sekolah. Terlebih lagi Sameiullah mempunyai adik yang masih sangat balita dan memerlukan susu. Dan untuk mengatasi keadaan seperti itu, Sameiullah harus benar-benar bekerja dan menghilangkan semua impian serta cita-citanya.

Namun keadaan yang dialami oleh Sameiullah dan saudaranya tersebut tidaklah hanya dialami oleh mereka saja. Karena pada kenyataannya banyak anak-anak yang berusia 5-15 tahun di Kabul yang harus terpaksa berhenti bersekolah serta melakukan pekerjaan apapun dijalanan.

Melihat kondisi anak-anak yang sangat rajin bekerja untuk menghidupi keluarganya, tentunya membuat hati kita tersentuh dan merasa kasihan. Nah kita sebagai pemuda yang memiliki nasib lebih baik dari Sameiullah harus lebih semangat dalam menjalankan hidup ini.

loading...