Kisah Inpiratif: Perempuan Sosialita Ini Mengganti Kalimat Pada Papan Seorang Tunanetra

Kisah Inpiratif: Perempuan Sosialita Ini  Mengganti Kalimat Pada Papan Seorang Tunanetra Kisah kali ini datang dari sebuah video pendek berdurasi 1 menit 47 detik. Video yang menampilkan betapa miris seorang pengemis tunanetra yang mengais rezeki dipinggir teras sebuah gedung besar dengan lalu lalang dan keramaian orang-orang disekitarnya.

Terkadang ada yang peduli dan memberikannya satu atau dua koin yang dilemparkan didepannya, namun juga terkadang adapula mereka yang hanya melintas didepannya dengan tanpa memperdulikanya, adapula mereka yang hanya memandang iba namun tidak melakukan apa-apa, adapula mereka yang memandang seolah jijik melihat lelaki tua yang mengemis di teras tersebut. Berbagai jenis dan tipikal orang memang banyak dijumpainya, namun hal tersebut tak lantas membuatnya berputus asa dan menyerah. Bukan tidak ingin bekerja dan mendapatkan perkerjaan yang lebih baik, namun apa hendak dikata lelaki tua tersebut hanyalah lelaki yang buta dan renta. Tak banyak yang bisa dilakukannya.

Suatu Ketika Di Sebuah Teras Dibawah Tangga Depan Sebuah Gedung

Perempuan Sosialita Ini  Mengganti Kalimat Pada Papan Seorang Tunanetra

Saat itu, langit terasa begitu terik, dalam video tersebut tergambar, lelaki tua ini duduk di teras pinggir jalan dengan beralaskan sebuah kardus bekas, ditemani dengan satu buah kaleng dan sebuah papan dari kardus yang bertuliskan "Saya Buta, tolong bantu saya". Lalu lalang para pejalan kaki bisa terdengar begitu sibuk, kerumunan beberapa remaja didepan sang lelaki tua bisa ia rasakan dengan sedikit jelas walaupun terdengar samar tidak jelas apa yang sebenarnya mereka perbincangkan, suara tawa dan candaan memang terdengar cukup keras, namun inti dari pembicaraan tersebut tidak pernah diketahuinya, atau mungkin tidak ada cukup waktu untuk si lelaki tua itu mendengarkan dan menyimak obrolan remaja. Dan dipinggir, tepatnya diatas tangga terdengar pula tawa terbahak-bahak dari sepasang wanita yang bisa ditebak dari pembicaraanya mungkin terdengar begitu lucu dan menggelitik, namun apapun itu rasanya tidak perlu diketahui si lelaki tua, yang ia butuhkan saat ini adalah kumpulan koin berharga agar bisa ia bawa pulang untuk istri dan anak cucunya. Setidaknya beberapa koin yang cukup untuk membeli sebotol air untuk meredakan rasa haus dan panas akibat sengatan matahari siang itu.

Saat itu, bisa ia rasakan beberapa pejalan kaki yang melintas didepannya dan berharap berbelas kasih memberikan sedikit sedekahnya. Namun sayang, orang pertama ini hanya melintas dan berlalu. Muncul kembali suara sepatu yang melintas dari arah yang berlawan dan kini didengarnya suara lemparan koin yang dihempaskan didepannya, sepertinya koin tersebut sengaja dilemparkan padanya. Apakah si pemberi merasa tidak ikhlas? atau mungkin seseorang memaksanya untuk memberikan koin itu pada si lelaki tua? Entahlah, yang pasti saat ini si lelaki tua mulai kesulitan mencari-cari kemana perginya koin yang dilemparkan tersebut, dengan meraba dan segala keterbatasannya akhirnya ia dapatkan koin tersebut dan dimasukannya pada sebuah kaleng yang sudah ia siapkan.

Seperti tuhan mendengar doanya hari ini, cukup banyak orang yang melintas didepannya, meski sedikit orang yang memberikannya recehan, namun ia tetap bersyukur dan terus menunggu jika saja ada orang dermawan yang mau berikhlas hati memberikannya sedikit sedekah yang ia butuhkan.

Namun siang itu, terlihat seorang wanita berpakaian hitam dengan kacamata indah di matanya serta tas yang dikaitkan ditanggannya berjalan tegap dan sedikit berlenggak-lenggok melintas didepan si pengemis, tak jauh setelah ia melintas didepan si pengemis, kemudian ia kembali dan menghampiri pengemis tersebut, namun bukannya sedekah yang ia berikan, rupanya ia tertarik dengan tulisan yang ada di papan, sang pengemis memang sudah merasakan kehadiran wanita tersebut, untuk mengenalinya disentuhnyalah sepatu dari si wanita itu. Sang wanita kemudian meraih papan itu dan membalik bagian belakang yang masih terlihat kosong, lalu diambilnya sebuah pena dan ditulisnya sesuatu di papan tersebut, ia tersenyum dan kemudian berlalu begitu saja.

Sontak saja, hal ini membuat si pengemis kebingungan, sebenarnya apa yang baru saja ia lakukan, apa yang dilakukannya dengan papan tersebut?

Apa yang Ditulis Wanita Itu?

Perempuan Sosialita Ini  Mengganti Kalimat Pada Papan Seorang Tunanetra

Selepas wanita itu pergi, tiba-tiba hampir semua pejalan kaki yang melintas didepan pengemis tersebut memberikan sedekahnya, mengejutkannya lagi sedekah yang diberikan jumlahnya hampir semuanya lebih banyak. Dan kini ada banyak koin uang yang menghiasi kaleng sang pengemis. Sang pengemis memang terlihat gembira sekaligus masih terus kebingungan, sebenarnya hal apa yang ditulis wanita tadi sehingga membuat orang lain memberikan sedekah yang banyak.

Tak lama kemudian, jawaban dari pertanyaan si pengemis datang dan wanita yang tadi menuliskan sesuatu di papannya kembali dan melihat begitu banyak sedekah yang didapat sang pengemis. Hal ini tentu membuat si wanita terlihat senang dan lega. Sang pengemis pun menanyakan pertanyaan itu pada sang wanita dengan mengatakan "Apa yang kau lakukan dengan papanku?", sang wanita kemudian menjawab "Aku menuliskan hal yang serupa pak tua, hanya saja aku tuliskan dalam kata-kata yang berbeda", sang pengemis kemudian berkata kembali "apapun yang kau tulis, aku berterimakasih padamu". Sebelum menjawab perkataan lelaki itu, sang wanita telah lebih dulu berlalu. Dan ternyata yang tertera dalam papan tersebut adalah "Dunia ini sangat indah, hanya saja aku tidak bisa melihatnya". Yang ternyata tulisan tersebut banyak menarik perhatian banyak orang dan membuat sang pengemis mendapatkan belas kasihan dalam bentuk berbeda.

Tulisan adalah sesuatu yang unik. Setiap kosa kata memiliki daya tarik tersendiri. Selain itu sebauh kata memiliki makna. Jadi buatlah kata-kata yang menarik dan lebih bermakna untuk mengubah dunia anda.

Berikut Video yang Bisa Anda Saksikan 

Subscribed Youtube Channel Kami, dan dapatkan video-video terbaru dari kami