Kisah Inpiratif: Tanpa Jari Tangan Aku Tetap Bisa Menjadi Desainer Handal

Tanpa Jari Tangan Aku Tetap Bisa Menjadi Desainer dan Arsiktektur Handal Pernahkah anda membayangkan menjalani hidup dan melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa melibatkan fungsi tangan anda? Pernahkah anda membayangkan menjadi seorang desainer dengan keterbatasan fungsional seperti bekerja tanpa menggunakan jari-jari tangan? Untuk seorang desainer seper Michelle Vandy, ini adalah realita yang harus ia terima dan ia jalani sehari-hari, bahkan ia harus belajar untuk terbiasa dengan kondisi seperti demikian.

Ya, bagi seorang desainer atau arsitektur, fungsi kekuatan jari-jari tangan memang memiliki peranan yang cukup penting. Sebab tangan dan jari-jari adalah modal utama anda menciptakan sebuah karya. Melalui gerakan tangan dan guratan jemari sebuah karya luar biasa dimulai dan tercipta. Sebaliknya, rasanya akan sulit sekali atau mungkin kita berpikiran mustahil untuk merancang dan mendesain suatu karya di komputer tanpa menggunakan tangan. Namun, bagaimana jika kita dihadapkan pada sebuah kondisi tertentu dimana jari-jemari kita mengalami penurunan fungsi yang membuatnya tidak lagi dapat bekerja dengan optimal dan bahkan kita tidak lagi dapat menggunakan jari jemari tersebut?

Semua hal bermula di musim panas, saat ini Vandy adalah seorang desainer muda di Omada Health, namun sebenarnya ia adalah seorang mahasiswa yang masih mengejar gelar sarjana di bidang arsitektur. Pada saat itu, Vandy adalah seorang siswa magang sebagai arsitek di musim panas. Gelarnya sebagai seorang mahasiswa magang membuatnya terpaksa harus mengerjakan pekerjaan berjam-jam lamanya dimana tangan dan jari-jemarinya adalah mesin tubuh yang membantunya menyelesaikan pekerjaannya. Hanya saja terlalu banyaknya pekerjaan dan terlalu lamanya jam bekerja membuat tubuh Vandy tak kuat menahan bebannya. Terlebih lagi dengan pekerjaan membuat ilustrasi untuk proyek buku temannya. Jika dikalkulasikan perhari, jam kerja Vandy bisa mencapai 10-15 jam. Jam kerja dan jumlahnya yang terlalu banyak ini membuat Vindy seringkali kelelahan dan lama-kelamaan, lenganya sering terasa kram dan berkedut sehingga pada akhirnya membuat jari-jari tangannya kehilangan seluruh kekuatannya dan membuatnya kehilangan fungsinya lagi.

Diagnosa Pertama Pada Jari-Jari Tanganku

 

Kondisi seperti ini tentunya membuat kerugian pada tubuh Vandy yang mana tentu saja hal ini akan menghambat pekerjaannya. Apalagi dengan impiannya, mimpinya sebagai seorang arsitektur handal tentu akan terhambat, jari-jemari yang biasa ia andalkan untuk bekerja dan mengukir karya yang luarbiasa telah berhenti bekerja, tubuh Vandy sudah tak lagi kuat menopang beban akibat aktivitas vandy yang terlalu menguras tenaga. Bahkan Vandy terpaksa harus menggunakan mouse komputer dengan menggunakan tangan kirinya. Rupanya, gadis dengan mimpi yang menakjubkan ini didiagnosa mengalami kondisi yang disebut dengan repetitive strain injury (STI), yakni suatu cedera yang menyerang bagian persendian yang diakibatkan karena ketegangan otot atau saraf akibat suatu aktivitas fisik tertentu yang dilakukan secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama. Pada kondisi ini, jika seseorang memaksakan bekerja menggunakan jari-jari tangannya maka sakit yang luar biasa akan dirasakan. Hal yang sama juga dialami oleh Vandy. Di awal ia tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya, bahkan ia tidak percaya jika dokter mendiagnosanya demikian, untuk itulah ia terus memaksakan jari-jemari agar tetap bekerja.

Namun ternyata bukan bekerja, malah sakit luar biasa yang dirasakannya. Ketika sakit ini menyerang tak jarang Vandy merasakan kesakitan sampai menjerit dan meronta tidak tahan dengan sakitnya.

Tanpa Jari Tangan Aku Tetap Bisa Menjadi Desainer dan Arsiktektur Handal

Namun bagaimana Vandy bisa bekerja dengan jari-jari tangannya yang sudah lagi tak berfungsi dengan baik? Mengingat pekerjaan dan profesinya selalu melibatkan kelincahan serta kekuatan jari-jari tangannya.

Namun meski demikian, hal ini tak lantas membuat Vandy menyerah dan berputus asa. Dengan bantuan ayahnya, Vandy mengembangkan sebuah alat yang dapat membantunya untuk menciptakan sebuah desain yakni sebuah perangkat dengan Manfrotto 492 table tripod, Apple Magic Trackpad, dan sebuah adaptor tripod plate. Hal ini memungkinkan dia untuk merancang menggunakan bibir dan hidungnya. Dia telah menggunakan metode ini selama beberapa tahun dan memiliki tingkat akurasi yang sama seperti yang ia lakukan dengan tangannya. Dan kini Vandy sudah tidak perlu mnegadalkan jari jemarinya lagi untuk melahirkan sebuah karya yang luar biasa. Sebab melalui hidung dan bibirnya ia bisa menciptakan sebuah sesuatu yang lebih menakjubkan.

Nah, sahabat dimanapun berada, ketika masalah datang menghampiri kita, kita mungkin sering mengeluh dan beranggapan bahwa kita adalah orang yang paling tidak beruntung didunia ini sehingga membuat kita gampang sekali menyerah. Namun setelah menyaksikan kisah kali ini, apakah sahabat masih mau mengeluh dan menyerah? Percayalah sahabat, kekurangan tak lantas membuat kita menjadi manusia yang tidak berharga. Jika kita tekun dan bekerja keras serta mau belajar dan berusaha, selalu ada jalan dan kekurangan tersebut bisa kita asah menjadi sebuah kelebihan yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan.

Berikut Kami Sajikan Videonya 

{embed:youtube:RAokWwilHGk}