Meskipun Bekerja Sebagai Buruh Cuci Ibu Hebat Ini Bisa Kuliahkan Anak Sampai S3 di Jepang

Seperti yang telah kita ketahui semua bahwa perjuangan dan pengorbanan seorang ibu sangatlah besar untuk anak-anaknya. Hal itu bisa kita lihat sendiri dari awal dirinya mengandung sang anak selama 9 bulan hingga melahirkan. Bahkan perjuangannya tidak sampai di sana saja karena setelah melahirkan pun ia harus merawat dan mendidik anaknya sampai dewasa.

Semua ibu yang ada di dunia ini tentunya menginginkan segala yang terbaik untuk anak-anaknya. Oleh sebab itulah tidak heran jika ia mempertaruhkan segalanya, entah itu perasaan, pikiran atau pun tenaga. Seorang ibu tidak akan merasa keberatan jika dirinya harus bekerja banting tulang siang malam demi bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.

Nah, kisah kali ini datang dari seorang ibu berusia 49 tahun. Ia merupakan ibu yang sangat hebat, mengapa tidak, meskipun dirinya hanya bekerja sebagai buruh cuci, tetapi ia bisa berhasil menyekolahkan anaknya bahkan sampai S3 di Jepang.

Yuniati, itulah nama ibu hebat tersebut, ia merupakan seorang buruh cuci warga Ketandan Kulon, Imogiri, Bantul. Ia telah berjuang demi kesuksesan anak-anaknya. Seperti yang dilansir dari merdeka.com, ibu dua anak ini rela bekerja keras menjadi buruh cuci bahkan sampai melakoni pekerjaan serabutan hanya demi memberikan pendidikan yang terbaik untuk semua buah hatinya.

Ibu Yuniati

Anak pertama ibu ini bernama Satya Chandra Wibawa Sakti, berusia 29 tahun, saat ini ia tengah kuliah S3 di Universitas Hokaido, Jepang. Sakti adalah salah seorang mahasiswa yang menerima beasiswa Dikti untuk kuliah di jurusan Kimia di Universitas Hokaido, Jepang pada tahun 2012. Sang ibu mengatakan bahwa dirinya akan melakukan pekerjaan apapun demi sang anak bisa sekolah tinggi agar anaknya tersebut tidak hidup seperti dirinya.

Anaknya tersebut baru selesai ujian S3, namun menurut sang ibu kemarin anaknya menelpon dirinya, ia meminta izin dirinya untuk lanjut pendidikan di Jerman satu tahun agar bisa mendapatkan gelar Doktor. Mendengar keinginan anaknya tersebut, sang ibu hanya bisa mendo'akan segala yang terbaik. Sebelum kuliah di Jepang, Sakti kuliah S1 jurusan kimia di UNY pada tahun 2004, kuliah S2 jurusan Kimia di UGM pada tahun 2008 silam.

Sementara anak kedua ibu ini yang bernama Oktaviana Ratna Cahyani yang kini berusia 27 tahun telah menjadi perawat di Rumah Sakit Harjo Lukito setelah dirinya lulus dari sebuah Akademi Perawat Bethesda.

Untuk membiayai sekolah anak-anaknya tersebut sang ibu sebenarnya pakai hutang, namun menurutnya anaknya tersebut tidak perlu tahu. Hal ini disebabkan agar anak-anaknya tidak minder dalam pergaulan. Namun yang membuat dirinya senang yaitu bahwa kedua anaknya tersebut tidak macam-macam, bahkan mereka tidak malu meskipun memiliki seorang ibu hanya buruh cuci.

Saat kedua anaknya tersebut masih kecil, Yuniati mengatakan bahwa dirinya telah mengatur waktu belajar anak-anaknya. Pulang sekolah anak-anaknya diharuskan tidur siang, sore hari diijinkan untuk bermain, dan malam diharuskan belajar.

Agar memudahkan anak-anaknya dalam belajar, Yuniati meminta anak-anaknya melingkari bagian-bagian yang tidak dimengerti atau dipahami. Setelah seperti itu, anak-anaknya diminta untuk menanyakan kepada guru mereka masing-masing di sekolah.

Ibu Yuniati1Ketika anak pertamanya masuk kuliah S1, Yuniati pontang-panting mencari pinjaman uang. Dan beruntung pada saat itu setengah biaya masuk kuliah dibantu oleh pemerintah kabupaten Bantul. Saat anaknya masuk semester 2 ia tidak begitu merasa khawatir karena anaknya tersebut mendapatkan beasiswa. Ia hanya memberikan uang jajan sebesar Rp 5.000 perhari.

Penghasilannya menjadi buruh cuci hanyalah Rp 10.000 sekali cuci saja. Ibu hebat ini memilih uangnya tersebut digunakan untuk pendidikan anak-anaknya, ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Menurutnya yang terpenting ada uang untuk beli beras. Sedangkan untuk lauknya ia bisa mengambil daun pepaya untuk dimasak. Jika sudah membeli beras, sisa uang yang dimilikinya tersebut ditabung untuk bayar hutang.

Bahkan sampai saat ini Yuniati mengaku bahwa dirinya masih memiliki banyak hutang. Namun meskipun begitu hal itu tidak ia jadikan sebagai beban. Baginya yang terpenting anak-anaknya tersebut bisa memiliki masa depan yang lebih cerah darinya. Menurutnya jika dipikirkan dirinya malah akan stres.

Nah, sahabat perjuangan dan kerja keras serta do'a seorang ibu merupakan cahaya menuju kesuksesan. Semoga kita semua bisa berusaha sebaik munkin agar bisa berbakti dan membahagiakan ibu kita.