Meskipun Didera Kemiskinan Tetapi Pemulung Ini Bisa Berkurban

Meskipun Didera Kemiskinan Tetapi Pemulung Ini Bisa BerkurbanKekayaan dan uang selalu menjadi pembeda ditengah-tengah masyarakat. Uang selalu dikait-kaitkan dengan kasta atau kelas. Orang dengan kekayaan yang berlimpah selalu dihargai dan diagung-agungkan, sedangkan orang yang tidak memiliki kekayaan selalu diremehkan dan dilihat sebelah mata oleh semuaya. Namun, ingatlah sahabat allah tidak pernah membedakan umatnya dari apapun yang ada di dunia ini. Allah selalu menganggap sama umatnya. Allah hanya membedakan umatnya dari amal ibadah yang ia lakukan. Nah, di bawah ini ada kisah mengharukan dari pasangan pemulung yang bisa ikut berkurban. Semoga kisah di bawah ini bisa menginspirasi kita semua.

Menabung Selama Tiga Tahun Untuk Berkurban

Jakarta, itulah ibu kota sekaligus kota metropolitan. Jakarta merupakan kota yang sangat padat akan penduduk. Penduduk di kota tersebut kebanyakan bukanlah penduduk asli. Banyak orang yang datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Di Jakarta pulalah orang-orang percaya bahwa hidupnya akan lebih baik. Namun pada kenyataannya, tidak semua  orang yang berhasil mengadu nasib di kota tersebut. Banyak yang pada akhirnya menderita disana. Banyak orang dibaluti kemiskinan di kota tersebut, tidak memiliki tempat tinggal dan tidak memiliki pekerjaan, dengan begitu mereka terpaksa harus hidup dikolong jembatan, mencopet untuk meneruskan hidup serta tidak sedikit orang yang menjadi pemulung di kota metropolitan tersebut. Ya, sama halnya seperti dua pasang pemulung yang bernama Yati dan Maman.

Yati merupakan wanita paru baya yang berusia 65 tahun dan memiliki suami bernama Maman, keduanya berprofesi sebagai pemulung. Mereka biasanya berkeliling di sekitar tebet jakarta selatan. Setiap harinya mereka harus berjalan memunguti barang-barang bekas sebanyak 10 Km. Penghasilan mereka berdua dari kerja keras memungut barang bekas tidaklah seberapa. Mereka mengaku bahwa pengasilannya dalam sehari sebesar Rp 25 ribu dan itu juga tidaklah menentu, bahkan dalam sehari mereka tidak pernah mendapatkan uang sepeserpun.

Meskipun hasil yang didapatkan tidaklah banyak tetapi mereka mencoba untuk menyisihkan sedikit uang dari penghasilannya untuk ditabung. Uang yang ditabungkannya tersebut bukanlah digunakan untuk menopang kehidupannya atau membeli barang yang diinginkannya melainkan untuk membeli hewan yang nantinya bisa dikurbankan. Ketika menabung Yati juga tidak menyimpan uangnya di bank. Ia menyimpan uangnya hanya di bawah bantal dalam sebuah amplop. Apabila uang yang ia kumpulkan sudah cukup banyak ia menitipkannya kepada tetangganya dengan alasan untuk keamanan.

Yati mengaku bahwa dirinya sudah sejak lama ingin berkurban. Ia tidak ingin terus menerus mengantri untuk mendapatkan daging kurban. Sesekali ia ingin merasakan membagikan daging kurban. Namun, niatnya tersebut tidak bisa terwujudkan karena kehidupan ekonominya yang tidak memungkinkan. Jangankan untuk membeli hewan kurban untuk makanpun terkadang mereka mengalami kesulitan. Namun, pada akhirnya keinginan Yati untuk berkurban datang kembali dan terus menguat. Yati semakin giat bekerja untuk mewujudkan impiannya tersebut. Bahkan untuk menambah penghasilan sesekali maman suaminya bekerja sebagai penarik sampah.

Setelah menabung selama bertahun-tahun yaitu hampir tiga tahun lamanya, akhirnya yati dan maman berhasil mengumpulkan uang sebanyak 3 juta untuk dibelikan kambing kurban. Dari uang hasil tabungannya tersebut mereka bisa membeli dua ekor kambing. Mereka mengaku membeli kambing tersebut di Pancoran. Ketika memiliki niat berkurban yati dan maman sempat ditertawakan dan diejek oleh orang-orang. Orang-orang beranggapan bahwa pemulung tidak pantas untuk berkurban. Namun meskipun begitu Yati menerimanya dengan lapang dada dan terus menjalankan niatnya tersebut untuk berkurban.

Panitia Kurban Menangis

Ketika kambing sudah dibeli kemudian Yati dan Maman memberikan 2 ekor kambing tersebut dengan menggunakan bajaj kepada panitia kurban di Mesjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Ketika pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung tersebut memberikan dua hewan tersebut kepada panitia kurban dengan serentak panitia kurban yang berada di mesjid pada saat ini meneteskan air mata haru.

"Saya nangis, karena saya tidak kuat menahan haru". Ujar salah satu panitia kurban disana. Ia menceritakan bahwa ketika Maman suami Yati memberikan hewan kurban ia berbicara dengan tegas dan justru ia yang menerimanya yang tidak kuat menahan haru. Dan hebatnya lagi kambing yang disumbangkan dari mereka berdua untuk dikurbankan merupakan kambing terbesar diantara kambing yang disumbangkan lainnya.

Yati dan Maman Mendapatkan Penghargaan

Meskipun Didera Kemiskinan Tetapi Pemulung Ini Bisa BerkurbanUsahan, kerja keras dan keikhlasan pastinya akan membuahkan hasil. Dan hasil itulah yang didapatkan oleh Yati dan Maman. Berita Yati dan Maman yang berprofesi sebagai pemulung tersebut sampai ketelinga Mensos yang masih menjabat pada saat itu yaitu, Salim Segaf Al Djufri. Begitu mendengar kisah Yati dan suaminya tersebut kemudian Salim Segaf langsung memerintahkan stafnya untuk menelusuri keberadaan Yati dan suaminya.

Setelah keberadaan Yati dan suaminya Maman ditemukan, kemudian Mensos pun kemudian memberikan hadiah kepada mereka berdua berupa modal untuk usaha. Yati dan suaminya bisa menggunakan uang tersebut untuk membuka usaha baru, tidak lagi berkeliling memungut barang bekas yang sudah ia jalani selama 40 tahun itu. Selain itu, Mensos juga menawarkan Yati untuk pulang ke kampung halamannya di Pasuruan Jawa Timur, karena ia merasa bahwa Yati sudah cukup tua dan harus kembali ke kampung halamannya ditambah pekerjaan yang dilakoninya bisa membahayakan dirinya juga.

Nah sahabat, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Kebaikan dan niat Yati beserta suaminya bisa kita jadikan panutan. Meskipun didera oleh kemiskinan tetapi mereka memiliki niat yang mulia.  Pastinya  niat dari mereka bukan untuk ria atau mendapatkan pujian dari semua orang, melainkan niat ikhlas semata-mata hanya untuk allah. Mereka menyadari bahwa hidup mereka di dunia selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang, namun mereka tidak mau dipandang sebelah mata oleh allah, dengan begitu mereka berusaha melakkukan banyak kebaikan agar derajat mereka bisa menjadi mulia dihadapan allah.

loading...