Meskipun Lumpuh, Wanita Ini Berhasil Menyelesaikan Buku Biografinya Hanya Dengan Kedipan Mata

Tidak ada yang bisa memprediksi kapan cobaan atau ujian hidup datang menghampiri kita. Namun, ketika keadaan tersebut menimpa terlebih lagi ketika kita tidak bisa menghadapinya, maka tidak jarang jika kita merasa putus asa dan putus harapan. Keadaan yang sulit tersebut telah banyak merubah orang. Ujian atau cobaan yang datang tersebut seringkali dianggap sebagai musibah. Dengan keadaan tersebut tidak sedikit orang yang menganggap bahwa hidupnya tidak seberuntung hidup orang lain di luar sana. Bahkan tidak jarang juga jika mereka memaki Tuhan atas cobaan atau ujian yang diberikannya kepada meraka.

Ketika kita merasa putus asa dan tidak memiliki lagi harapan, maka cobalah untuk melihat orang-orang yang ada di luar sana. Orang-orang di luar sana akan menunjukan kepada kita semua bahwa bukan hanya kitalah yang menderita di dunia ini. Lihatlah semangat juang mereka dalam mempertahankan dan menjalankan hidup di tengah-tengah kesulitan yang ada. Harapan akan selalu ada jika kita meyakini itu semua. Memang tidak mudah untuk selalu optimis ketika kita diberi ujuan atau cobaan oleh sang Maha Kuasa. Hidup di dunia ini hanyalah sekali, oleh sebab itu berikanlah yang terbaik untuk hidup ini. Janganlah pernah menyerah dan putus asa akan keadaan yang menimpa, karena jika begitu maka segala sesuatu yang selama ini telah kita lakukan akan menjadi sia-sia.

Gong Xunhui

Nah, kisah kali ini datang dari seorang wanita bernama Gong Xunhui. Kisah ini menceritakan tentang semangatnya menjalani hidup di tengah-tengah penderitaan yang ia hadapi. Gong Xunhui merupakan wanita berusia 62 tahun, ia berasal dari Chengdu, Cina. Dulunya ia seorang dokter. Sebagaimana yang dilansir dari dailymail.co.uk, tubuh wanita ini kini lumpuh karena ia mengidap penyakit neuron motor progresif. Karenya penyakit yang dideritanya tersebut, ia tidak bisa seperti dulu lagi. Dimana saat ini ia tidak bisa berbicara atau menggerakan badannya. Namun meskipun keadaannya sangat sulit, tetapi ia tidak begitu saja pasrah akan keadaan yang menimpanya tersebut.

Menyempatkan waktu untuk berkarya di tengah penderitaan

Gong Xunhui2
Di tengah keadaannya yang lemah dan tidak berdaya tersebut, ia tidak hanya diam dan menyesali keadaan, justru ia tetap menyempatkan waktunya untuk berkarya. Meskipun tubuhnya lumpuh, tetapi masih ada kemampuan yang tersisa dari dalam dirinya. Dimana kemampuan yang masih tersisa pada dirinya yaitu hanyalah mengedipkan mata, ia membuat karya dengan mengandalkan kemampuannya tersebut. Gong mengoperasikan komputer dengan menggunakan kedipan mata, hingga pada akhirnya ia berhasil mengetik, membuat dan menghasilkan buku biografi. Meskipun hal ini tidaklah mudah, tetapi ia tidak pernah menyerah.

Buku biografi yang ditulisnya ini akan ia jual, dimana hasil penjualannya tersebut bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan akan ia donasikan. Di dalam buku biografi yang ditulisnya sendiri, Gong menceritakan pengalaman hidupnya selama ini termasuk menceritakan penyakit yang dideritanya.

Gong bertemu dengan sang suami Zhang Cunrui pertama kali pada tahun 1976, dimana pertemuan mereka pada saat itu berawal dari sang kakek. Ketika pertemuan tersebut keduanya langsung jatuh cinta. Setelah lima bulan kemudian, mereka pun melangsungkan pesta pernikahan. Selama bertahun-tahun pernikahan mereka hidup sangat rukun dan bahagia, mereka berdua dikarunia seorang anak laki-laki. Namun, kebahagiaan mereka sempat terhenti karena pada saat musim gugur tahun 2002 tragedi menyedihkan itu terjadi dan menimpa Gong. Pada saat itu Gong mengalami pusing-pusing, kaki kanannya terasa sangat lemah atau layu, bahkan ia juga tidak memiliki tenaga untuk menggerakannya.

Selama setahun lamanya gejala tersebut Gong rasakan, penyakit yang dialaminya tersebut belum saja terdeteksi. Hingga pada akhirnya, dokter yang menanganinya selama ini menyatakan bahwa Gong menderita penyakit neuron motor, penyakit tersebut merupakan penyakit yang sama seperti yang dialami oleh Stephen Hawking. Yang paling menyedihkan yaitu, Gong divonis hanya memiliki harapan hidup lima tahun.

Ketika mengetahui kenyataan tersebut, tangis Gong pecah. Di kamar rumah sakit, ia terus menangis mengingat penyakit yang dideritanya tersebut, bahkan ia juga tidak bisa tidur. Penyakit yang dialaminya semakin hari semkin parah, hingga pada akhirnya tubuhnya lumpuh dan terkulai tidak bisa melakukan apa-apa. Kini ia juga sudah tidak bisa berbicara lagi. Hanya suaminyalah kini tempat ia bergantung hidup.

Tidak pernah menyarah dan putus asa

Gong Xunhui1

Menghadapi kondisi yang semakin parah, Gong tidak pernah menyerah dan putus asa. Ia mengatakan kepada suaminya bahwa ia tidak ingin menyerah pada takdir dan keadaan yang menimpanya ini. Ia masih hidup dan ia ingin melanjutkan hidupnya, bukan hanya menunggu datangnya kematian.

Sejak Gong mengatakan hal tersebut kepada suaminya, ia mulai menggarap buku biografinya sendiri. Dengan bantuan teknologi yang sangat canggih, Gong bisa menulis meskipun hanya dengan kedipan mata. Ketika menulis, kamera video diletakan di depannya, dimana kamera tersebut mampu menangkap gerakan matanya, program komputer kemudan akan memprosesnya untuk mengetik kata atau kalimat.

Karena hanya mengandalkan kedipan mata, tentunya proses penulisan buku biografi ini berjalan sangat lambat dan banyak memakan waktu. Ketika itu Gong mulai mengetik pada pukul 8 pagi sampai pukul 10 malam haru. Di sela-sela waktu mengetiknya tersebut, Gong menyempatkan mengobrol bersama dengan teman-temannya melalui situs jejaring sosial.

Sang suami mengatakan bahwa istrinya tersebut memiliki tekad yang sangat kuat untuk menyelesaikan tulisannya tersebut. Dalam setiap harinya, istrinya tersebut duduk di depan komputer selama 10 jam lebih dan mengedipkan matanya untuk mengetik. Menurut sang suami, melalui kedipan mata ribuan kali, ia bisa menyelesaikan ketikan maksimum 3.000 kata dalam perharinya. Ia bekerja tidak ada hentinya selama setahun, pada akhirnya bukunya tersebut berhasil ia selsaikan.

Buku biografi yang ditulis Gong kini sudah rampung. Biografinya tersebut bukanlah berisi kisah hidupnya yang menderita, melainkan berisikan tentang cara menyemangati orang-orang di luar sana yang memiliki penyakit yang sama serta untuk mereka yang sedang berjuang dalam menghadapi cobaan.
Gong juga beharap bahwa hasil penjualan bukunya tersebut bisa ia gunakan untuk membeli respirator untuk para penderita motor neuron seperti dirinya.
Nah, sahabat disaat hidupnya menderita tetapi justru semangat Gong tidak pernah padam. Jika orang lain mungkin akan mengeluh atas apa yang dideritanya, tetapi Gong tetap memiliki kekuatan yang besar untuk melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidupnya.

Gong merupakan wanita yang sangat luar biasa. Semoga dengan adanya kisah Gong ini mata hati kita terbuka agar tidak mengeluh dan putus asa dalam setiap cobaan yang menimpa. Selalu yakin, bahwa katika kita terus berusaha dan berjuang, meskipun pada saat itu keadaan kita tidak mendukung, maka apa yang kita inginkan bahkan yang dianggap mustahil sekalipun akan bisa kita dapatkan. Kisah Gong juga telah menginpsirasi kita untuk selalu memberikan yang terbaik dalam hidup yang singkat ini.

 

loading...