Kisah Menyentuh: Selamat Tinggal Ibu

Kisah Menyentuh: Selamat Tinggal Ibu Kisah pilu yang begitu menyentuh kali ini datang dari sebuah video di Youtube berupa sebuah kisah dramatis yang dirangkum menjadi sebuah video pendek berdurasi 8 menit 56 menit. Kisah yang mungkin kita anggap biasa dibagian awal ini ternyata memiliki akhir yang begitu mengejutkan dan memilukan. Kisah ini mengisahkan akan seorang ibu yang diajak pergi dan ditinggalkan disebuah taman kota untuk menikmati keindahan taman.

Cerita bermula dari sebuah ruangan gelap, dalam ruangan ini samar terlihat berbagai properti layaknya seperti dirumah, terlihat dibagian depan pintu yang sedikit terbuka dengan gorden pintu yang tertiup dengan angin, jam dinding yang tergantung rapih di dinding rumah dan hiasan lain yang terlihat begitu tertata rapih. Tiba-tiba derit pintu terdengar, suara pintu yang terbuka membaut cahaya masuk dan mulai menyinari satu objek diruangan tersebut, terlihat sebuah foto wanita berjilbab yang sudah tidak algi usianya, kerut diwajah, kulit yang sudah tidak kencang lagi serta mata yang begitu sayu nampak jelas pada foto tersebut, sudah bisa dipastikan foto wanita ini mungkin adalah wanita yang memiliki gelar dituakan dalam rumah tersebut mungkin saja dia nenek dari pemilik rumah atau mungkin dia adalah ibu dari si sang pemilik rumah, entahlah.
Tak lama dari deritan bunyi pintu tadi, muncul seorang pemuda dengan mengenakan setelah kemeja dan celana katun seperti baru pulang dari kantor, ia berjalan melewati foto tadi dan menuju pintu depan yang sedikit terbuka dengan gorden yang masih tertiup angin. Ya, pemuda ini adalah Abdallah sang pemiliki rumah, sudah lebih dari 3 tahun ini Abdallah tinggal menyendiri dirumahnya, sang ibu atau wanita dalam fotonya tadi telah meninggal dunia sejak tiga tahun yang lalu, duka dan sepi mungkin masih menghiasi hatinya, hal ini terlihat jelas di raut wajahnya yang kerap kali murung, seperti kali ini, sepulang dari bekerja ia langsung menyantap kopi dan menyendiri sambil melihat kebawah dari apartemennya yang tinggi, melihat keramaian dari baklok apartemen sambil memperhatikan lalu lalang dan keraiaman orang-orang tangah menjadi kebiasaan yang seringkali dilakukannya.

Aku Melihat Wanita Tua Itu Ditinggalkan 

Kisah Menyentuh: Selamat Tinggal Ibu

Namun saat itu, sebuah pemandangan berbeda tengah disaksikannya, jalanan yang terlihat sepi membuat kedua matanya terus mencari setiap objek menarik untuk dilihatnya. Nampak dua orang sedang berjalan seorang lelaki bersama dengan wanita tua yang dipopohnya bersama. Abdallah tak bisa melepaskan pandangannya pada kedua orang ini, matanya terus saja mengawasi dan bertanya-tanya apa yang mereka lakukan disana.

Rupanya, lelaki yang memopoh wanita tua itu mengajaknya untuk duduk dikursi dipinggir jalan, dan tiba-tiba lelaki ini memberikan secarik kertas pada si wanita tua dengan mengatakan ia akan pergi bekerja, dalam pesannya sang lelaki berkata jika nanti ia terlambat datang menjemput wanita tua tersebut, maka berikan secarik kertas tersebut kepada seseorang, maka kertas tersebut akan membantunya mengantarkan sang wanita ke tempat tujuannya. Dengan sedikit kecewa sang wanita tua mengambil kertas tersebut dan menyetujui permintaan dari sang lelaki yang tak lain adalah anak lelakinya. Tak lama kemudian sang anak lelaki pergi berlalu dengan sebuah kecupan perpisahan di kening ibunya yang sudah tua sambil mengucap 'Selamat tinggal ibu'.

Serangkaian kejadian ini masih terus diawasi Abdallah dari balkon apartemennya, namun nampaknya ia tak punya banyak waktu untuk menyaksikan kisah akhir dari kedua orang tadi yang ia saksikan,dengan terpaksa dan terburu-buru Abdallah pun berlalu. Namun setibanya di jalanan dan hendak pergi dengan mobilnya, mata Abdallah masih terutuju pada si wanita tua, dengan tatapan yang begitu khawatir akhirnya Abdallah terpaksa meninggalkan tempat tersebut.

Si wanita tua masih sabar menununggu, meski terik matahari menyoroti keningnya yang telah mengerut, ia tetap setia menunggu. Mungkin ia terlalu takut untuknya beranjak, takut jika sewaktu anaknya kembali menjemputnya si anak mendapati ibunya tidak ditempat. Selama menunggu banyak lalu lalang para pejalan kaki yang terus memperhatikannya, bahkan si nenek rela berbagi hadiah kecil dengan beberapa anak yang lewat didepannya, sebuah kebahagian kecil dengan berbagi permen diyakininya akan membuat mereka kegirangan. Sungguh mulia hati si nenek, meskipun ia sendirian, jiwa berbagi dan hatinya yang ikhlas masih saja melekat padanya.

Selamat Tinggal Ibu 

Kisah Menyentuh: Selamat Tinggal Ibu

Langit masih saja terlihat terang dan matahari semakin panas saja, membuat si nenek yang telah menunggu berjam-jam mulai kehilangan banyak energi dan membuat tubuhnya menginginkan pasokan energi, dilihatnya seorang pemuda yang sedang bersender di tembok jalan sambil dipegangnya satu mangkuk mie cup dan ditenggaknya kuah mie hingga tak tersisa, si nenek terus memperhatikan dan berharap ia mau berbagi mie yang mungkin sudah habis saat itu. Namun apa daya, ia hanya orang asing yang duduk sendiri menunggu kedatangan anaknya, yang ia harapkan saat ini adalah kehadiran anaknya agar menjemputnya sesegera mungkin sebab ia sudah mulai kepanasan dan kelaparan.
Waktu mungkin sudah cukup sore saat itu, bahkan Abdallah yang pergi bekerjapun sudah kembali pekerjaannya. Dalam mobil Abdallah disibukkan dengan pembicaraan dalam telponnya bersama dengan sang kekasih, namun tiba-tiba konsentrasi Abdallah dalam telpon seketika terpecah ketika ia mendapati wanita tua yang dilihatnya tadi pagi masih duduk termenung di kursi yang sama seperti yang ia lihat tadi pagi. Abdallah lantas menghampiri nenek tersebut dan memulai perbincangan.

Namun sebelum perbincangan itu mendalam, si wanita tua tiba-tiba meminta air dalam botol pelastik yang dibawa Abdallah dan meminta keridoan hati Abdallah untuk merelakan air minumnya tersebut untuk si wanita tua, maka dengan tanpa pikir panjang, Abdallah segera memberikannya.

Perbincangan hangatpun segera berlanjut, dalam perbincangan tersebut bisa dilihat raut wajah si wanita tua yang tak sabar menunggu kehadiran anaknya untuk segera menjemputnya, si wanita tua juga menjelaskan betapa ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucunya yang sudah berusia balita yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, karena sewaktu sang anak menikah ia tidak bisa datang ke kota ini.
Bukan hanya itu, ia juga menunjukan hadiah istimewa yang akan diberikan si wanita tua pada menantunya yang untuk pertama kalinya akan ia temui. Ujarnya, sejak anaknya menikah ia belum bisa menemuinya karena tidak ada cukup uang untuk pergi ke kota dimana saat ini ia duduk karena keuangan yang tidak memadai. Namun wanita tua tersebut kini bersyukur karena ia akan segera bertemu dengan anak, menantu dan cucunya. Memang begitu hangat pembicaraan yang dilakukan sore itu antara Abdallah dengan kebahagian si wanita tua yang sudah tidak sabar akan bertemu dengan keluarganya sampai mereka tidak sadar jika waktu telah beranjak senja dan malam akan segera tiba.

Untungnya, si wanita tua kembali teringat pada secarik kertas yang diberikan sang anak padanya, yang meminta ia memberikan kertas tersebut pada oranglain agar bisa membantu ia menemui anaknya.

Dengan segera Abdallah menawarkan bantuan itu padanya, meminta kertas tersebut dan langsung memegang ponselnya, dari sini tentu Abdallah telah mengira jika yang tertulis dalam kertas itu adalah nomor ponsel atau mungkin saja alamat anak si wanita tua. Diambilnya kertas itu dan dibukanya dengan tanpa beban, namun betapa terkejutnya Abdallah setelah membuka secarik kertas tersebut.

Bukan nomor telpon ataupun alamat yang tertulis disana, dalam secarik kertas itu tertulis "Siapapun yang menemukan wanita ini, tolong bawa ia ke panti jompo terdekat." Setelah membaca isi dari kertas itu, Abdallah lantas memandang wajah si wanita tua yang tidak berdosa, wanita tua itu masih terlihat bahagia seolah tak sabar menunggu bantuan yang akan didapatnya. Namun apa yang harus Abdallah lakukan, disatu sisi tidak tega namun di sisi lain ia tidak memiliki pilihan lain, Abdallah hanya memandang wajah dan mata si wanita tua yang mulai mengerti dengan ekspresi Abdallah.

Nah, sahabat dimanapun berada sesungguhnya ibu adalah seseorang yang telah merawat kita sejak lahir, ia adalah orang yang telah mengorbakan segalanya untuk kita, mengorbankan materi, jiwa, raga dan seluruh waktunya hanya untuk merawat kita. Meskipun mungkin dulu kita seringkali merasa menjadi anak nakal, anak bandel dan susah sekali diatur, namun ibu tidak pernah menyerah dengan mudah ia tetap berusaha menyayangi kita dan menjaga kita. Lantas, apakah bijak jika setelah semua pengorbanan yang ia lakukan selama ini dibalas dengan pengkhianatan seperti kisah diatas?.

Berikut Video yang Bisa Anda Simak 

{embed:youtube:7hHEGX3Ql_c}

Loading...

Loading...