Perjuangan Seorang Ayah yang Membesarkan Anak Autisnya Seorang Diri

Ayah adalah sosok tangguh yang pernah kita kenal. Mungkin selama ini kita melihat sosok ayah dengan perangai yang tegas dan menakutkan. Namun, dibalik itu semua ayah memiliki hati yang lembut dan menyimpan kasih sayang yang besar kepada semua anaknya. Ayah merupakan salah satu sosok yang ingin melihat anaknya bahagia. Bahkan demi melihat anaknya bahagia ia rela melakukan apapun. Semua yang diinginkan oleh anak yang dicintainya dengan sebisa mungkin ayah wujudkan meskipun untuk mendapatkannya jalan yang harus dilalui tidak mudah.

Tanpa seorang ayah mungkin kita tidak akan ada di dunia ini, jasa dan pengorbanan seorang ayah telah membuat kita menjadi seperti sekarang ini. Setiap hari ayah bekerja, dan itu semua dilakukan demi membahagiakan anak dan keluarganya. Berangkat pagi ketika keluarga yang lainnya masih tertidur, dan pulang malam setelah yang lainnya tertidur merupakan keseharian yang dilakukan oleh beberapa orang ayah. Namun, meskipun keadaan tersebut kita rasa cukup berat tetapi ayah tidak pernah mengeluh sama sekali. Bahkan rasa lelah yang bahkan setiap waktu melandanya tersebut ia hiraukan.

Selain menjadi kepala keluarga yang bertugas untuk mencari nafkah, bukan berarti seorang ayah tidak bisa mengurus anaknya dengan baik. Dalam keadaan tertentu seorang ayah bisa juga menjadi seorang ibu. Bahkan hal-hal kecil yang biasa ibu lakukan ketika merawat seorang anak bisa juga dilakukan oleh ayah. Nah, pernyataan ini bisa dibuktikan dalam kisah di bawah ini. Dimana dalam kisah di bawah ini menceritakan perjuangan seorang ayah dalam merawat anaknya. Bahkan dengan hebatnya ayah dalam kisah di bawah ini merawat anaknya hanya seorang diri karena ia bercerai dengan sang istri. Tidak hanya itu, anaknya tersebut pun menderita sebuah kelainan dimana anaknya menderita autis. Namun, meskipun begitu keadaan tersebut tidak pernah menyulutkan kasih sayang kepada anaknya tersebut. Dengan sabar dan penuh kasih sayang ia tetap membesarkannya layaknya seorang ibu yang membesarkan anaknya. Di bawah ini kelanjutan kisah yang bisa anda simak.

Membesarkan Anaknya Dengan Penuh Kasih Sayang

Ken Siri itulah nama ayah tangguh yang merawat anak autisnya sendirian dengan penuh kasih sayang. Setiap hari Ken Siri selalu bangun pagi hari tepatnya pukul 6:30, kemudian ayah tunggal ini mengisi waktu beberapa jam ke depan untuk memandikan, memakaikan baju dan membuat makanan untuk sang anak tercinta yang bernama Alex yang kini berusia 15 tahun. Makanan yang disiapkan untuk anaknya tersebut bukanlah makanan sembarangan. Ken harus menyiapkan makanan khusus dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditentukan karena Alex juga menderita kolitis ulseratif atau peradangan kronis dari usus besar sampai menimbulkan ulserasi. Sebagai seorang ayah Ken merupakan sosok yang sangat hebat, pasalnya ia bisa merawat anaknya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu.

Meskipun menderita autis tetapi Ken mengharapkan anaknya bisa memiliki pendidikan yang layak seperti anak normal lainnya. Oleh sebab itu, Ken memasukan Alex ke sekolah di Manhattan. Setiap pagi Alex pergi ke sekolah dengan menggunakann bus dan ia kembali ke rumah pada pukul 3 sore. Nah, selama anaknya tidak ada di rumah maka Ken harus menuntaskan semua pekerjaannya dan mengurus semua keperluan rumah tangga.

Alex Didiagnosis Menderita Autisme pada Tahun 2002


Alex putranya didiagnosa menderita autisme pada tahun 2002. Setahun sebelum menderita autis, Alex yang pada saat itu berusia 3 tahun dan orang tuanya menonton acara televisi bersama. Ketika itu, acara televisi yang Alex dan orang tuanya saksikan menayangkan runtuhnya sebuah menara. Karena merasa takut, dengan spontan Alex berbicara kepada orangtuanya untuk mematikan televisi tersebut . Dua bulan setelah itu kemampuan berbicaranya semakin menurun. Hingga setahun kemudian kemampuan berbicaranya benar-benar hilang semuanya.

Melihat anaknya seperti itu Ken kemudian membawanya ke dokter. Saat dokter mengatakan bahwa Alex menderita autisme, saat itu juga Ken sempat bertanya-tanya apa itu autisme dan apa yang harus dilakukannya. Sedangkan pada saat itu Ken sudah bercerai dengan ibu Alex. Karena Ken bekerja, Alex harus pulang pergi dari tempat tinggal ayahnya di new York dan D.C tempat tinggal sang ibu. Karena kondisi tersebut tidak efektif Alex akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya Ken untuk selamanya.

Ken Memutuskan Berhenti Sebagai Analis Kesehatan

Ken bekerja sebagai analis kesehatan di Wall Street. Pekerjaannya tersebut membuat ia tidak memiliki banyak waktu untuk merawat anaknya. Oleh sebab itu, Ken mengambil keputusan untuk berhenti menjadi analis kesehatan agar bisa membesarkan anaknya dengan baik. Untuk mendapatkan uang setelah ia keluar dari tempat kerjanya, Ken kemudian beralih profesi menjadi seorang penulis. Ken menulis buku tentang autisme, ia juga mendirikan perusahaan konsultasi finansial yang dijalankan di rumahnya sendiri.

Kehidupan Ken dan Alex Dibuat Menjadi Film Dokumenter

Karena hebatnya Ken sebagai seorang ayah, akhirnya kisah hidupnya bersama anaknya tersebut dibuat menjadi sebuah film dokumenter yang berjudul "Big Daddy Autism" yang diproduseri oleh Aaron Feinstein. Dengan film yang menceritakan kisah hidupnya ini, Ken berharap bisa menginspirasi banyak orang terutama mereka yang memiliki nasib sama seperti dirinya. Ken mengharapkan bahwa semua orang tidak menggambarkan anak autis sebagai anak aneh dan tidak cerdas.

Ken menjalaskan bahwa dalam film dokumenter ini ia ingin menunjukan pentingnya keterlibatan seorang ayah dalam membesarkan sang anak. "Saya ingin memperlihatkan bahwa sosok seorang ayah seharusnya bisa dan perlu dilibatkan lebih dari sekedar persepsi yang selama ini ada di tengah-tengah masyarakat," Ungkap Ken. Tidak hanya itu, Ken juga memiliki saran hanya tiga kata saja untuk para orang tua yang memiliki anak autis, "Dampingi mereka selalu".

Memiliki seorang anak yang menderita kelainan seperti Alex memang sangatlah berat untuk sebagian orang tua. Namun, Ken sebagai orang tua yang memiliki anak autis membuktikan bahwa dirinya bisa selalu mendampingi sang anak hingga mendapatkan pendidikan yang layak, maka dengan begitu segala sesuatunya akan terasa menjadi lebih mudah dan penuh makna.

Saat ini Ken sudah bisa berkomunikasi, namun ia berkomunikasi bukan secara alami melainkan dengan bantuan teknologi. Ia menggunakan aplikasi iPad yang bernama Proloquo2Go untuk berbicara dan berkomunikasi dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Tidak hanya itu, Alex juga mendapatkan Medicaid Waiver yang dapat memberikan semua layanan yang ia perlukan.

Nah, sahabat kisah dari Ken merupakan salah satu bukti perjuangan dan kasih sayang seorang ayah untuk anaknya. Mungkin perjuangan ayah kita juga sama besarnya seperti yang dilakukan Ken atau bahkan lebih besar namun kita tidak pernah mengetahuinya. Oleh sebab itu, sebagai ucapan terimakasih tidak ada salahnya jika kita membalas budi semua kebaikan yang pernah ayah berikan kepada kita semua.

 

Berikut Video yang Bisa Anda Saksikan

Loading...

Loading...

Popular Tags (2)