Tidak ada pasangan di dunia ini yang ingin bertengkar, karena pada dasarnya semua orang mengharapkan hidup dengan damai dan tenang. Namun, namanya juga hidup, terkadang permasalahan datang dan menghampiri.

Semua pasangan tentunya pernah menghadapi jalan buntu, ketika tidak ada titik penyelesaian biasanya rasa kesal yang mendalam akan dirasakan sehingga dengan begitu pertengkaran di antara sepasang suami istri pun tidak bisa dielakan lagi.

Baca Juga:

Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang yang memiliki sifat dan karakter berbeda, pernikahan justru sebuah proses yang panjang untuk saling mengenal satu sama lain dan mendewasakan diri. Oleh sebab itu, wajar jika dalam proses tersebut sering terjadi ketidaksamaan atau benturan, dan ini tentunya disebabkan karena masing-masing pasangan memiliki sifat dan karakter serta pola pemikiran yang berbeda.

Ketika orang yang kita cintai berulah atau membuat masalah, tentunya kita pun akan dicekam oleh rasa marah. Segala sesuatu akan menjadi tidak karuan, makan tidak enak, bahkan tidur pun tidak bisa nyenyak.

Terkadang kita merasa perlu untuk melampiaskan emosi yang kita rasakan, hal ini dilakukan guna mengakhiri rasa marah yang menggebu di dalam hati. Untuk meluapkan emosinya tersebut, tidak sedikit pasangan yang justru bertengkar di hadapan anak-anaknya tanpa pernah pikir panjang lagi. Anak-anak juga memiliki perasaan, tetapi kebanyakan pasangan yang bertengkar tidak pernah ingin tahu apa yang mereka rasakan pada saat itu ketika melihat orang tuanya bertengkar dan saling meluapkan emosinya masing-masing.

Meskipun mungkin belum mengerti, tetapi anak-anak yang menyaksikan kedua orang tuanya sedang bertengkar tentunya akan merasa sangat kecewa dan sedih. Mereka akan memiliki pikiran bahwa mereka kehilangan tempat berlindung dan rasa aman, kehilangan rasa percaya diri dan sulit untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.

Semua orang tua tentunya sudah mengetahui apa bahayanya bertengkar di depan anak-anak, namun karena keegoisan masing-masing mereka tidak pernah memikirkan itu semua.

Jika anda dan pasangan memang tidak bisa menahan emosi masing-masing dan terpaksa harus bertengkar, cobalah untuk melakukan tips aman ini ketika bertengkar di hadapan anak-anak anda.

Tips bertengkar di depan anak

Tips Aman dan Tepat Bertengkar di Hadapan Anak

1. Perhatikan keadaan di sekeliling sebelum marah

Ketika anda sedang emosi dan ingin meluapkan emosi yang anda rasakan tersebut, maka pastikan anak-anak tidak mendengarkan apa yang akan anda katakan kepada pasangan anda. Cobalah cek terlebih dahulu apakah anak-anak sudah tidur atau belum. Dan jika memang mereka belum tidur, maka anda harus mencari alasan yang tepat agar mereka bisa meninggalkan anda dan suami anda pada detik itu juga. Misalkan, anda menyuruh anak-anak anda untuk segera pergi ke kamar karena anda akan membacakan dongeng pengantar tidur bagi mereka.

2. Bertengkar di ruangan lain

Ketika anak anda sedang asyik menonton di ruang nonton tv, maka anda bisa mengajak pasangan anda untuk membicarakan masalah di ruangan lain seperti di teras atau di kamar. Ketika itu, janganlah lupa untuk memutarkan lagu kesayangan anak-anak anda dengan volume yang sedikit keras, hal ini dimaksudkan agar mereka tidak mendengar apa yang anda dan pasangan anda perdebatkan.

3. Tarik nafas dalam dalam

Ketika anda merasa terbakar emosi, maka anda bisa menarik dan menghembuskan nafas kurang lebih sebanyak 10 kali. Jika memungkinkan anda bisa meluangkan waktu untuk berlatih pernafasan. Melatih pernafasan dengan teratur dalam setiap harinya merupakan cara yang cukup ampuh untuk mengendalikan emosi anda dan menghindari diri anda agar tidak mengucapkan kata-kata kasar kepada pasangan.

4. Hindari nada tinggi

Bagi anda yang memiiki bayi, tentunya akan melihat bayi anda rewel ketika anda dan pasangan sedang bertengkar. Seorang bayi memang belum bisa untuk memahami ucapan orang tua atau orang-orang yang ada di sekelilingnya, tetapi ia akan tahu bahwa di sekelilingnya tersebut ada sesuatu yang salah atau yang sedang terjadi karena adanya perubahan nada suara anda dan pasangan. Sebesar apapun kemarahan anda, maka usahakanlah untuk tidak menaikan nada suara anda. Jika memungkinkan, anda bisa membicarakan masalah di antara berdua ketika bayi sedang tidur.

5. Gunakan bahasa tubuh

Bertengkar bukan berarti harus meluapkan amarah dengan kata-kata, tetapi dengan bahasa tubuh juga sudah cukup. Jika anda tidak bisa menghindar dari anak-anak ketika ingin membicarakan masalah atau ketika anda kesal kepada pasangan anda, maka anda bisa menatap mata pasangan anda dengan dalam-dalam serta pasang raut muka yang masam. Anda jangan mengatakan apapun kepada pasangan anda ketika emosi tiba-tiba datang pada saat anda dan keluarga anda sedang bercengkrama. Dengan tips ini anda tidak akan merusak suasana dengan bertengkar di hadapan anak-anak.

6. Jaga perasaan anak

Sebelum bertengkar, tentunya anda harus memikirkan perasaan anak-anak anda. Anda sebaiknya bersikap seakan-akan tidak ada atau tidak terjadi sesuatu yang serius di hadapan mereka. Semarah apapun anda pasa saat itu, jangan sampai anda mengatakan hal-hal yang buruk tentang ayah atau ibu mereka. Jika memang anak anda sudah terlanjur mengetahuinya, maka anda bisa menjelaskan kepada mereka tentang masalah yang terjadi, jelaskan juga hikmah dibalik peristiwa pertengkaran ini.

7. Menyendiri sejenak

Tentunya sebagian dari kita tidak akan ada yang bisa mengontrol amarah atau memikirkan apapun ketika emosi sudah mulai memuncak dan naik ke ubun-ubun. Ketika itu, cobalah anda untuk menyendiri sejenak. Pergilah ke luar rumah sebentar. Ingatlah kembali apa penyebab yang membuat anda marah. Jika sudah ditemukan apa penyebabnya, maka anda bisa langsung menyelesaikan masalah pada hari dan waktu itu juga. Hal ini juga dilakukan agar masalah yang ada tidak menjadi duri yang nantinya akan mengganggu keharmonisan rumah tangga anda.

Hal yang lebih penting lagi yaitu, selama anda bertengkar dengan pasangan maka anda bisa memperlihatkan kasih sayang dengan sesekali bercanda, meskipun pada kenyataannya tidaklah mudah. Ketika anda bisa mengelola konflik atau masalah yang terjadi, maka hal ini akan membawa pelajaran yang berharga bukan bagi anda dan pasangan saja, melainkan juga bagi anak-anak anda.

8. Jangan menggunakan kekerasan fisik

Selain harus menghindari kata-kata bernada tinggi, anda juga harus menghindari melakukan kekerasan fisik ketika bertengkar. Janganlah sampai anda memukul pasangan anda atau bahkan sampai melemparkan barang-barang yang ada di sekitar. Ketika anda melakukan kekerasan fisik, anak-anak anda akan merasa takut. Atau bahkan mereka pun akan melakukan kekerasakan ketika menyelesaikan masalah setelah mereka dewasa nanti. Oleh sebab itu, demi kebaikan anak-anak, anda harus bisa menahan emosi dan amarah anda, bertengkarlah dengan cerdas dan bijaksana.

Hal yang perlu anda ingat yaitu, bersikap diam untuk menghindari terjadinya pertengkaran bukanlah cara yang bijaksana. Anggaplah pertengkaran yang terjadi di antara kalian berdua sebagai sebuah ujian yang mestinya anda lalui agar bisa hidup ketahapan yang lebih tinggi lagi. Rasa cinta dan sayang antara anda dan pasangan anda tentunya akan semakin membara ketika anda berdua sudah berhasil melewati fase ini dan tentunya dengan cara-cara yang bijaksana dan tepat. Semoga bermanfaat.

Loading...

Loading...